Berhijab Tapi Masih Pacaran ??

"Percuma aja berhijab kalau masih pacaran!"
"Hijab sih, tapi tingkah lakunya kayak setan"
"Untuk apa hijab kalau ngomongnya masih kasar dan sembarangan?!"

Kalimat-kalimat sinis semisal ini biasanya dipamungkas dengan kalimat, "Makanya, yang penting hati yang dihijab! Bukan kepala dan badan, doang!" 
Tidak jarang kita menemukan komentar miring mengenai Muslimah yang berhijab. Biasanya format komentar ini sudah ada template-nya. Yaitu menyandingkan hijab dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang masih dilakukan


Pertama

Perlu kita sampaikan bahwa hijab bukalah pernyataa "aku sudah baik" atau "aku tiada dosa"
Hijab sederhana hanya pernyataan "aku ingin taat"
Muslimah yang mengenakan hijab bukanlah malaikat, dan memang tidak harus menunggu bagaikan malaikat yang tak diberikan kesempatan Allah untuk bermaksiat. Malah bila berhijab harus menunggu laksana malaikat, tentu tiada satu pun Muslimah yang layak mengenakannya.
Justru sebaliknya, hijab adalah sebuah usha Muslimah untuk menjauhi maksiat. Hijab memberikan sebuat pengingat bagi diri untuk senantiasa menjauhi dosa. Bahkan berhijab itu sendiri sudah menghindarkan diri Muslimah dari dosa berkelanjutan, dosa mengumbar aurat.
Lagi pula, siap sih yang gak bermaksiat?? Semua manusia pasti bermaksiat, Nah, hijab justru mengurangi kemungkinan-kemungkinan untuk bermaksiat. Bila sempurnannya akhlak dijadikan sebagai syarat, mungkin yang pantas kenakan hijab hanya malaikat.

Kedua

Seharusnya jangan menyalahkan hijab atas kemaksiatan yang masih melekat. Karena tiada kotelasinya sama sekali
"Untuk apa hijab tapi masih pacaran?!"
" So What?? Harusnya berpikir bagaimana caranya hijabnya diteruskan dan pacarannya dihentikan, betul apa betul?"
"Berhijab, tapi ngomongnnya masih kasar!"
"Lalu? It's not a solution, isn't ti?"

Hijab adalah satu kewajiban, sementara menjauhi maksiat adalah kewajiban yang laiinya. Tidak perlu dihubung-hungkan satu dengan yang laiinya.
Bila jadi sebuah instropeksi pribadi, atau nasihat dari satu teman ke teman lainnya okelah. Tapi kalau djadikan sebagai alasan untuk menunda berhijab atau mengolok-olok yang sudah berhijab? Sangat tidak bijak.


Ketiga 

Mari berlogika,
Hijab tapi masih pacaran, berarti dosannya satu, yaitu dosa pacaran
Buka atuat tapi pacaran, berarti dosanya dua.
Pilih mana?? yang dosannya satu atau dosanya dua?
Bagus, pilihlah yang berhijab dan tidak pacaran !

SEMANGAT seseorang untuk taat dan terikat pada hukum Allah sungguh harus didukung dan dihargai. Bila masih ada yang terselip atau kurang, tuagas kitalah untuk menasihati. Bukan malah dibuat patah arang dengan dicela dan dimaki.
Menjadi baik itu prosesnya, ada pembelajarannya
Tidak semua Muslimah itu melakukan yang salah karena memang bermasalah.
Kebanyakan Muslimah melakukan  yang salah karena belum diberi tahu mana yang benar.
Inilah porsi terbanyak Muslimah. Walaupun tentu belajar itu ada masanya. Tidak selamanya salah bisa dilegitimasi dengan alasan belajar.
Selalu belajar untuk menyempurnakan hijab. Kaji lagi dan lagi dalil-dalil syar'i berkaitan dengannya. Insya Allah, Allah memudahkan setiap hamba yang mendekat kepada-Nya.



Felix Y Siauw, Yuk berhijab , Jakarta, Mizania 2013, hal. 132-144












1 komentar:

  1. haai, artikelnya menarik:) Minta follback nya yaa, makasihh :D

    BalasHapus

Mauu komentar ? silahkan :D
Maaf jika ada penulisan kata yang kurang jelas hihi kadang suka typo
Jika ada kesalahan dalam postingan, silahkan kasih komentar dan saran yah hihi
Terimakasih banyak :)